Para pembaca
yang budiman,
Komitmen
aparatur sangat penting untuk menjadikan lembaga tetap kompetitif dalam
menghadapi tekanan tuntutan produktivitas dan kualitas pelayanan. Menurut
Kreitner dan Kinicki (dalam Jurnal Manajemen, 2011), komitmen yang lebih tinggi
dapat mempermudah terwujudnya produktivitas yang lebih tinggi.
Agar dapat
menjawab tuntutan kinerja dan pelayanan publik yang semakin meningkat, sebuah
institusi pemerintah membutuhkan peningkatan produktivitas disemua tingkatan.
Untuk mencapai ini diperlukan komitmen yang kuat dari seluruh aparatur.
Pelayanan
yang terbaik kepada masyarakat tidak akan dapat dicapai tanpa dedikasi dan
komitmen yang tinggi dari aparatur. Pegawai akan memperlakukan masyarakat
dengan cara bagaimana mereka sendiri diperlakukan. Apabila pegawai mendapat
perlakukan yang baik dari organisasi, maka merekapun akan memperlakukan
masyarakat dengan cara yang sama. Ini adalah hubungan langsung antara manajemen
SDM yang baik, tingkat komitmen aparatur terhadap organisasi, dan standar
pelayanan kepada masyarakat.
Dengan
diperlakukannya pegawai dengan baik, maka pegawai dapat termotivasi untuk
mencapai kesempurnaan dalam segala bidang. Mereka akan memberikan kontribusi
secara sukarela, dan akan melakukan lebih daripada yang diharapkan.
Para pembaca
yang budiman,
Komitmen
seorang pegawai akan menjadi lebih kuat bila pengalamannya dalam suatu
organisasi konsisten dengan harapan-harapannya, dan memuaskan kebutuhan
dasarnya dan sebaliknya.
Orientasi
kesesuaian tujuan (Goal Congruence Orientation) seorang aparatur di dalam
organisasi menekankan pada sejauh mana tujuan-tujuan pribadinya sejalan dengan
tujuan-tujuan organisasi.
Pendekatan ini mencerminkan bahwa keinginan seorang
pegawai untuk menerima dan berusaha mewujudkan tujuan-tujuan organisasi akan
sangat dipengaruhi oleh tingkat kesesuaian tujuannya pribadi dan tujuan
organisasi.
Goal
congruence menunjukkan kuatnya keinginan seseorang untuk terus bekerja bagi
suatu organisasi karena ia memang setuju dengan organisasi itu dan berkeinginan
melakukannya. Pegawai yang mempunyai komitmen yang kuat, tetap bekerja dengan
lembaga karena mereka memang menginginkan untuk bekerja pada lembaga itu. ***
Sabtu, 13 April 2013
MEMBANGUN KOMITMEN APARATUR
Para pembaca
yang budiman,
Komitmen adalah janji atau kesanggupan yang pasti untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu (LAN, 2005). Dalam konteks pemerintahan, maka komitmen seorang aparatur pada organisasi merupakan suatu keadaan dimana seorang aparatur memihak pada suatu organisasi dan tujuan-tujuannya, serta berniat memelihara keberpihakannya pada organisasi tersebut.
Luthans (dalam Jurnal Manajemen, 2011), mengartikan komitmen organisasi sebagai A willingness to exert high levels of effort on behalf of the organization. Sebuah kemauan yang kuat untuk berusaha mempertahankan nama organisasi.
Gambaran tentang aparatur yang mempunyai komitmen tinggi terhadap organisasi dapat dilihat dari sepak terjang sepuluh kepala daerah yang pernah dinobatkan sebagai bupati dan walikota terbaik se-Indonesia tahun 2008 silam. Para tokoh tersebut telah menunjukkan komitmen yang mengagumkan. Mereka memiliki tekad yang tinggi terhadap peningkatan kualitas pelayanan, dan penegakkan birokrasi yang bersih.
Komitmen ini ditandai dengan berbagai keputusan/kebijakan mereka yang memberi dampak signifkan terhadap perbaikan sistem dan kultur pelayanan, serta keberanian mereka dalam menjalankan tugas dan penegakkan hukum.
Para bupati dan walikota tersebut juga memiliki komitmen yang kuat terhadap pencapaian visi organisasi, dengan fokus pada peningkatan efektivitas dan efisiensi birokrasi. Komitmen mereka yang tinggi sangat tampak dari keteladanan yang mereka perlihatkan dalam bekerja.
Kontras dengan kondisi di atas adalah fakta masih rendahnya komitmen kebanyakan aparatur di negeri ini. Menurut para ahli tata negara, lemahnya komitmen aparatur disebabkan antara lain karena lemahnya keterikatan aparatur dengan visi dan misi lembaga. Banyak pejabat yang terjebak pada pragmatisme asal anggaran terserap atau yang penting administrasi beres, tanpa menimbang apakah kegiatan yang dilakukan telah menghantarkan atau mendekatkan kepada tercapainya visi misi yang dicita-citakan, atau belum.
Kurangnya komitmen seorang pejabat untuk memperhatikan outcome atau benefit dari sebuah kegiatan, terjadi karena banyak hal. Mulai dari godaan uang gampang, ketidakberdayaan menghadapi lingkungan, hingga tidak ditemukannya kenyamanan dalam bekerja.
Komitmen untuk sanggup menahan diri dari berbagai godaan perkeliruan di kantor, adalah hal yang saat ini semakin sulit ditemukan di tengah kehidupan birokrasi.
Selain hal-hal tersebut diatas, rendahnya komitmen aparatur juga bisa disebabkan oleh tidak terinternalisasinya target-target yang dibebankan dipundaknya. Banyak pejabat yang cenderung masa bodoh atau kurang peduli dengan capaian kinerja. Mereka tidak memandang bahwa dirinya adalah bagian penting dari sebuah tim yang sedang menuju ke puncak cita-cita. Para aparatur tersebut belum memandang bahwa menjaga kehormatan dirinya selaku penyandang jabatan, adalah bagian dari integritas yang harus ditegakkan oleh seorang aparatur.
Komitmen sebagaimana dipahami, tidak hanya menyangkut pencapaian target-target kinerja sesuai dengan renstra saja, tetapi juga komitmen untuk meningkatkan kualitas pelayanan secara umum, komitmen memperbaiki sistem dan prosedur, komitmen meningkatkan kualitas komunikasi, spirit, dan integritas, serta komitmen untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi lembaga.
Kecenderungan rendahnya komitmen para pejabat, pada skala yang lebih tinggi, ternyata membawa dampak lain yang tidak ringan, yaitu terhempasnya moral dan semangat pegawai di bawahnya. Bila pegawai sudah melihat bahwa para pemimpinnya tidak lagi bisa dijadikan panutan, tidak lagi bisa menunjukkan nilai-nilai moral yang baik, tidak lagi bisa menjadi rujukan etika dan semangat kerja, maka tidak heran bila kemudian para pegawai tersebut tidak lagi berkomitmen terhadap organisasi. Bila tidak segera diatasi, akibatnya akan semakin buruk. Para pegawai bisa menjadi apatis dan tidak lagi fokus pada capaian kinerja. Dampaknya kemudian adalah inefisiensi, inefektivitas, dan demoralisasi terjadi dimana-mana. Bila sudah demikian, organisasi hanya tinggal menunggu waktu menuju jurang ketidakberdayaan. ***
Komitmen adalah janji atau kesanggupan yang pasti untuk melakukan sesuatu atau tidak melakukan sesuatu (LAN, 2005). Dalam konteks pemerintahan, maka komitmen seorang aparatur pada organisasi merupakan suatu keadaan dimana seorang aparatur memihak pada suatu organisasi dan tujuan-tujuannya, serta berniat memelihara keberpihakannya pada organisasi tersebut.
Luthans (dalam Jurnal Manajemen, 2011), mengartikan komitmen organisasi sebagai A willingness to exert high levels of effort on behalf of the organization. Sebuah kemauan yang kuat untuk berusaha mempertahankan nama organisasi.
Gambaran tentang aparatur yang mempunyai komitmen tinggi terhadap organisasi dapat dilihat dari sepak terjang sepuluh kepala daerah yang pernah dinobatkan sebagai bupati dan walikota terbaik se-Indonesia tahun 2008 silam. Para tokoh tersebut telah menunjukkan komitmen yang mengagumkan. Mereka memiliki tekad yang tinggi terhadap peningkatan kualitas pelayanan, dan penegakkan birokrasi yang bersih.
Komitmen ini ditandai dengan berbagai keputusan/kebijakan mereka yang memberi dampak signifkan terhadap perbaikan sistem dan kultur pelayanan, serta keberanian mereka dalam menjalankan tugas dan penegakkan hukum.
Para bupati dan walikota tersebut juga memiliki komitmen yang kuat terhadap pencapaian visi organisasi, dengan fokus pada peningkatan efektivitas dan efisiensi birokrasi. Komitmen mereka yang tinggi sangat tampak dari keteladanan yang mereka perlihatkan dalam bekerja.
Kontras dengan kondisi di atas adalah fakta masih rendahnya komitmen kebanyakan aparatur di negeri ini. Menurut para ahli tata negara, lemahnya komitmen aparatur disebabkan antara lain karena lemahnya keterikatan aparatur dengan visi dan misi lembaga. Banyak pejabat yang terjebak pada pragmatisme asal anggaran terserap atau yang penting administrasi beres, tanpa menimbang apakah kegiatan yang dilakukan telah menghantarkan atau mendekatkan kepada tercapainya visi misi yang dicita-citakan, atau belum.
Kurangnya komitmen seorang pejabat untuk memperhatikan outcome atau benefit dari sebuah kegiatan, terjadi karena banyak hal. Mulai dari godaan uang gampang, ketidakberdayaan menghadapi lingkungan, hingga tidak ditemukannya kenyamanan dalam bekerja.
Komitmen untuk sanggup menahan diri dari berbagai godaan perkeliruan di kantor, adalah hal yang saat ini semakin sulit ditemukan di tengah kehidupan birokrasi.
Selain hal-hal tersebut diatas, rendahnya komitmen aparatur juga bisa disebabkan oleh tidak terinternalisasinya target-target yang dibebankan dipundaknya. Banyak pejabat yang cenderung masa bodoh atau kurang peduli dengan capaian kinerja. Mereka tidak memandang bahwa dirinya adalah bagian penting dari sebuah tim yang sedang menuju ke puncak cita-cita. Para aparatur tersebut belum memandang bahwa menjaga kehormatan dirinya selaku penyandang jabatan, adalah bagian dari integritas yang harus ditegakkan oleh seorang aparatur.
Komitmen sebagaimana dipahami, tidak hanya menyangkut pencapaian target-target kinerja sesuai dengan renstra saja, tetapi juga komitmen untuk meningkatkan kualitas pelayanan secara umum, komitmen memperbaiki sistem dan prosedur, komitmen meningkatkan kualitas komunikasi, spirit, dan integritas, serta komitmen untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi lembaga.
Kecenderungan rendahnya komitmen para pejabat, pada skala yang lebih tinggi, ternyata membawa dampak lain yang tidak ringan, yaitu terhempasnya moral dan semangat pegawai di bawahnya. Bila pegawai sudah melihat bahwa para pemimpinnya tidak lagi bisa dijadikan panutan, tidak lagi bisa menunjukkan nilai-nilai moral yang baik, tidak lagi bisa menjadi rujukan etika dan semangat kerja, maka tidak heran bila kemudian para pegawai tersebut tidak lagi berkomitmen terhadap organisasi. Bila tidak segera diatasi, akibatnya akan semakin buruk. Para pegawai bisa menjadi apatis dan tidak lagi fokus pada capaian kinerja. Dampaknya kemudian adalah inefisiensi, inefektivitas, dan demoralisasi terjadi dimana-mana. Bila sudah demikian, organisasi hanya tinggal menunggu waktu menuju jurang ketidakberdayaan. ***
BAGAIMANA MENGUKUR KECERDASAN SPIRITUAL?
Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall, 2001 (dalam Lisa Kumalanty, 2011), kecerdasan spiritual tidak bisa dihitung karena pertanyaan yang diberikan semata-mata merupakan latihan perenungan.
Dalam bukunya yang berjudul : KECERDASAN SPIRITUAL, Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, yang diresensi oleh Lisa Kumalanty; Danah Zohar dan Ian Marshall, 2001, menjelaskan bahwa kita hidup dalam budaya yang bodoh secara spiritual. Kita telah kehilangan pemahaman terhadap nilai-nilai dasar kehidupan. Kehidupan yang bodoh secara spiritual ini ditandai dengan materialisme, egoisme, kehilangan makna dan komitmen.
Di dalam menghadapi berbagai masalah di tempat kerja, sangat diperlukan adanya kemampuan untuk dapat melihat keterkaitan dari setiap permasalahan yang sedang dihadapi. Diperlukan kepemimpinan dengan semangat pengabdian, mampu untuk melepaskan dirinya dari kepentingan-kepentingan sempit kelompok, atau dorongan hawa nafsu.
Kita harus dapat melepaskan diri dari pengaruh budaya masyarakat modern yang saat ini sangat dipengaruhi oleh humanisme barat, yang ternyata menurut Danah Zohar dan Ian Marshall memiliki kecerdasan spiritual kolektif yang rendah. Manusianya berada dalam budaya yang secara spiritual bodoh yang ditandai oleh materialisme, egoisme diri yang sempit, dan kehilangan makna serta komitmen.
Oleh karena itu ajaran-ajaran agama akan sangat membantu kita untuk dapat meningkatkan kecerdasan spiritual agar dapat menjadi tinggi dan dapat keluar dari berbagai persoalan birokrat yang saat ini begitu memprihatinkan. ***
Dalam bukunya yang berjudul : KECERDASAN SPIRITUAL, Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual Dalam Berpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan, yang diresensi oleh Lisa Kumalanty; Danah Zohar dan Ian Marshall, 2001, menjelaskan bahwa kita hidup dalam budaya yang bodoh secara spiritual. Kita telah kehilangan pemahaman terhadap nilai-nilai dasar kehidupan. Kehidupan yang bodoh secara spiritual ini ditandai dengan materialisme, egoisme, kehilangan makna dan komitmen.
Di dalam menghadapi berbagai masalah di tempat kerja, sangat diperlukan adanya kemampuan untuk dapat melihat keterkaitan dari setiap permasalahan yang sedang dihadapi. Diperlukan kepemimpinan dengan semangat pengabdian, mampu untuk melepaskan dirinya dari kepentingan-kepentingan sempit kelompok, atau dorongan hawa nafsu.
Kita harus dapat melepaskan diri dari pengaruh budaya masyarakat modern yang saat ini sangat dipengaruhi oleh humanisme barat, yang ternyata menurut Danah Zohar dan Ian Marshall memiliki kecerdasan spiritual kolektif yang rendah. Manusianya berada dalam budaya yang secara spiritual bodoh yang ditandai oleh materialisme, egoisme diri yang sempit, dan kehilangan makna serta komitmen.
Oleh karena itu ajaran-ajaran agama akan sangat membantu kita untuk dapat meningkatkan kecerdasan spiritual agar dapat menjadi tinggi dan dapat keluar dari berbagai persoalan birokrat yang saat ini begitu memprihatinkan. ***
posted from Bloggeroid
CARA MENINGKATKAN KECERDASAN SPIRITUAL
Para pembaca yang budiman,
Cara meningkatkan kecerdasan sosial menurut Prof. Dr. Khalil Khavari, sebagaimana dikutip Muhidin, 2011 dalam Abdul Wahid, adalah sebagai berikut:
1. Mulailah dengan banyak merenungkan secara mendalam persoalan-persoalan hidup yang terbaik, baik di dalam diri sendiri, termasuk yang terjadi di luar diri sendiri. Perenungan bisa dilakukan di tempat-tempat sunyi sehingga lebih memungkinkan kepada otak untuk bekerja secara efektif dan maksimal.
2. Melihat kenyataan-kenyataan hidup secara utuh dan menyeluruh. Adapun yang dialami baik kesedihan dan penderitaan haruslah diletakkan dalam bingkai yang lebih bermakna. Dengan demikian jika datang penderitaan, kita akan melewati dengan ketenangan dan kesabaran.
3. Mengenali motif diri, motif atau tujuan yang kuat akan memiliki implikasi yang kuat bagi seseorang dalam mengarungi kehidupan, sebab motif merupakan energi yang sangat luar biasa yang menggerakkan potensi diri.
Sedangkan menurut sukidi dalam Muhidi, 2011, empat langkah mengasah kecerdasan spiritual adalah:
a. Kenalilah Diri Anda. Orang yang sudah tidak bisa mengenal dirinya sendiri akan mengalami krisis makna hidup maupun krisis spiritual. Karenanya, mengenali diri sendiri adalah syarat pertama untuk meningkatkan kecerdasan spiritual.
b. Lakukan Intropeksi Diri. Dalam istilah keagamaan dikenal sebagai upaya pertobatan, ajukan pertanyaan pada diri sendiri, sudahkah perjalanan hidup dan karier saya berjalan atau berada di rel yang benar?. Barangkali saat kita melakukan introspeksi, kita menemukan bahwa selama ini telah melakukan kesalahan, kecurangan, atau kemunafikan terhadap orang lain.
c. Aktifkan Hati Secara Rutin. Dalam konteks beragama adalah mengingat Tuhan. Karena, Dia adalah sumber kebenaran tertinggi dan kepada Dia-lah kita kembali. Dengan mengingat Tuhan, maka kita menjadi damai. Hal ini membuktikan kenapa banyak orang yang mencoba mengingat Tuhan melalui cara berzikir, tafakur, sholat tahajud, kontemplasi di tempat sunyi, bermeditasi, dan lain sebagainya.
d. Menemukan Keharmonisan dan Ketenangan Hidup. Kita tidak menjadi manusia yang rakus akan materi, tapi dapat merasakan kepuasan tertinggi berupa kedamaian dalam hati dan jiwa, hingga kita mencapai keseimbangan dalam hidup dan merasakan kebahagian spiritual.
Menurut Tony Buzan dalam Muhidin, 2011. beberapa cara mengembangkan kecerdasan spiritual yaitu:
Seseorang harus memahami dirinya sendiri, mengenai bakat, potensi, kemampuan istimewa yang dimilikinya. Sehingga akan memiliki semangat serta motivasi yang tinggi.
Setelah memahami dirinya, kemudian dia harus mengembangkan pemahamannya terhadap orang lain. Pemahaman terhadap bakat, potensi, keunikan orang lain sehingga menimbulkan rasa takjub terhadap orang lain.
Mengembangkan kesadaran keterhubungan terhadap keluarga, masyarakat dan kehidupan organisasi.
Menurut Abdul Wahid Hasan (2006:85-91) beberapa langkah meningkatkan kecerdasan spiritual sebagai berikut:
Mulai dengan banyak merenungkan secara mendalam persoalan-persoalan hidup yang terjadi, baik di dalam diri sendiri, termasuk di luar diri sendiri.
Melihat kenyataan-kenyataan hidup secara utuh dan menyeluruh, tidak terpisah.
Mengenali motif diri. Motif atau tujuan (niat) yang kuat akan memiliki implikasi yang kuat pula bagi seseorang dalam mengarungi kehidupan.
Merefleksikan dan mengaktualisasikan spiritualitas dalam penghayatan hidup yang konkrit dan nyata.
Merasakan kehadiran yang begitu dekat, saat berzikir, berdoa dan dalam aktivitas yang lain. ***
Cara meningkatkan kecerdasan sosial menurut Prof. Dr. Khalil Khavari, sebagaimana dikutip Muhidin, 2011 dalam Abdul Wahid, adalah sebagai berikut:
1. Mulailah dengan banyak merenungkan secara mendalam persoalan-persoalan hidup yang terbaik, baik di dalam diri sendiri, termasuk yang terjadi di luar diri sendiri. Perenungan bisa dilakukan di tempat-tempat sunyi sehingga lebih memungkinkan kepada otak untuk bekerja secara efektif dan maksimal.
2. Melihat kenyataan-kenyataan hidup secara utuh dan menyeluruh. Adapun yang dialami baik kesedihan dan penderitaan haruslah diletakkan dalam bingkai yang lebih bermakna. Dengan demikian jika datang penderitaan, kita akan melewati dengan ketenangan dan kesabaran.
3. Mengenali motif diri, motif atau tujuan yang kuat akan memiliki implikasi yang kuat bagi seseorang dalam mengarungi kehidupan, sebab motif merupakan energi yang sangat luar biasa yang menggerakkan potensi diri.
Sedangkan menurut sukidi dalam Muhidi, 2011, empat langkah mengasah kecerdasan spiritual adalah:
a. Kenalilah Diri Anda. Orang yang sudah tidak bisa mengenal dirinya sendiri akan mengalami krisis makna hidup maupun krisis spiritual. Karenanya, mengenali diri sendiri adalah syarat pertama untuk meningkatkan kecerdasan spiritual.
b. Lakukan Intropeksi Diri. Dalam istilah keagamaan dikenal sebagai upaya pertobatan, ajukan pertanyaan pada diri sendiri, sudahkah perjalanan hidup dan karier saya berjalan atau berada di rel yang benar?. Barangkali saat kita melakukan introspeksi, kita menemukan bahwa selama ini telah melakukan kesalahan, kecurangan, atau kemunafikan terhadap orang lain.
c. Aktifkan Hati Secara Rutin. Dalam konteks beragama adalah mengingat Tuhan. Karena, Dia adalah sumber kebenaran tertinggi dan kepada Dia-lah kita kembali. Dengan mengingat Tuhan, maka kita menjadi damai. Hal ini membuktikan kenapa banyak orang yang mencoba mengingat Tuhan melalui cara berzikir, tafakur, sholat tahajud, kontemplasi di tempat sunyi, bermeditasi, dan lain sebagainya.
d. Menemukan Keharmonisan dan Ketenangan Hidup. Kita tidak menjadi manusia yang rakus akan materi, tapi dapat merasakan kepuasan tertinggi berupa kedamaian dalam hati dan jiwa, hingga kita mencapai keseimbangan dalam hidup dan merasakan kebahagian spiritual.
Menurut Tony Buzan dalam Muhidin, 2011. beberapa cara mengembangkan kecerdasan spiritual yaitu:
Seseorang harus memahami dirinya sendiri, mengenai bakat, potensi, kemampuan istimewa yang dimilikinya. Sehingga akan memiliki semangat serta motivasi yang tinggi.
Setelah memahami dirinya, kemudian dia harus mengembangkan pemahamannya terhadap orang lain. Pemahaman terhadap bakat, potensi, keunikan orang lain sehingga menimbulkan rasa takjub terhadap orang lain.
Mengembangkan kesadaran keterhubungan terhadap keluarga, masyarakat dan kehidupan organisasi.
Menurut Abdul Wahid Hasan (2006:85-91) beberapa langkah meningkatkan kecerdasan spiritual sebagai berikut:
Mulai dengan banyak merenungkan secara mendalam persoalan-persoalan hidup yang terjadi, baik di dalam diri sendiri, termasuk di luar diri sendiri.
Melihat kenyataan-kenyataan hidup secara utuh dan menyeluruh, tidak terpisah.
Mengenali motif diri. Motif atau tujuan (niat) yang kuat akan memiliki implikasi yang kuat pula bagi seseorang dalam mengarungi kehidupan.
Merefleksikan dan mengaktualisasikan spiritualitas dalam penghayatan hidup yang konkrit dan nyata.
Merasakan kehadiran yang begitu dekat, saat berzikir, berdoa dan dalam aktivitas yang lain. ***
posted from Bloggeroid
KECERDASAN SPIRITUAL DAN KONDISI KIMIAWI TUBUH
Para pembaca yang budiman,
Menurut Sentanu, 2011, kecerdasan spiritual itu mempunyai banyak konsep, kiat, dan caranya. Seperti apa sih orang yang cerdas secara spiritual itu? bagaimana rasanya? Otak dan tubuhnya beroperasi seperti apa?
Cerdas secara spiritual atau dekat dengan Tuhan itu harus dibuktikan dengan berada di zona ikhlas yang mensyaratkan tiga hal, yaitu gelombang otaknya harus lebih banyak dalam posisi Alfa dan Tetha, kemudian sistem perkabelan otaknya (neuropeptide) serasi dan memunculkan perasaan tertentu kepada Tuhan, lalu tubuhnya harus cukup mengandung hormon serotonin, endorfin, dan melantonin dalam komposisi yang pas.
Dalam kondisi itu, maka dengan sendirinya ciri-ciri kecerdasan spiritual akan muncul.
Tanpa ketiga syarat itu, agak sulit dipercaya. Misalnya seseorang mengaku dekat dengan Tuhan tapi hormon di tubuhnya dominan kortisol, yaitu hormon yang muncul pada saat orang stres, bagaimana mungkin? Seseorang yang dekat dengan Tuhan mestinya lebih banyak berada dalam kondisi khusyuk, kondisi rileks, dan hormon di tubuhnya pasti hormon yang bagus seperti hormon DHEA, serotonin, endorfin, dan melantonin.
Kita bisa melatih kecerdasan spiritual lewat puasa, dengan syarat puasa tersebut dijalankan dengan benar. Karena puasa bisa menurunkan gelornbang otak dari Beta ke Alfa-Theta sehingga rnembuat orang lebih sabar dan memunculkan keinginan untuk berbuat baik. Kalau itu berlanjut hingga 10 hari maka otaknya akan stabil beroperasi di Alfa-Theta. Kalau hal itu bisa berlanjut hingga 20 hari, maka hormon-hormon yang baik dan menenangkan akan diproduksi oleh tubuh. Saat itu dia akan melihat hidup ini dengan cara lain, menjadi mudah bersyukur, mudah merasa terharu.
Memunculkan perasaan mudah bersyukur itu penting sekali karena rasa syukur bisa diartikan sebagai kemampuan menikmati hidup ini apapun kondisinya, sehingga susah atau senang rasanya tetap nikmat. Rasa syukur yang benar, dalam arti betul-betul menghayati nikmatnya hidup, juga sangat membantu memunculkan kecerdasan spiritual.
Dengan mengasah kecerdasan spiritual, seseorang bisa mengendalikan temperamennya. Bila dulu stres menghadapi kemacetan, sekarang bisa ikhlas dan bisa berpikir barangkali setiap orang memang punya tujuan yang sama. Selain itu, kalau dulu setiap berdoa terus saja meminta tapi lupa bersyukur, kini setiap berdoa selalu diawali dengan mensyukuri semua yang diberikan Tuhan. Dengan anak-anak di rumah lebih sabar dan pengertian. Meminta maaf kepada anak karena merasa salah tidak lagi terasa sulit seperti sebelumnya.
Dalam hidup, kita cenderung lebih banyak menggunakan otak. Padahal dengan perasaan dan keikhlasan, kita justru bisa menghasilkan loncatan-loncatan dalam kehidupan.
Kecerdasan spiritual bisa diasah dengan membantu orang lain. Beramal baik itu meringankan perasaan. Bukan berarti masalah kita lalu selesai, tapi masalah kita itu menjadi terasa ringan dengan menolong orang tanpa memandang agama, suku, ras. Pokoknya kepada semua mahluk Tuhan tanpa pilih-pilih.
Dengan berkhidmat kepada sesama seperti itu ternyata membuat kita lebih kuat, meringankan derita, dan lebih cepat mengantarkan kita pada kecerdasan spiritual yang lebih tinggi. Dengan begitu, kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan Tuhan pun akhirnya memudahkan urusan-urusan kita.
Masalah itu kalau dinikmati ternyata bisa menjadi ringan; kalau diterima dengan ikhlas dan senyuman, bisa lebih mudah selesai. Karena hati bisa menerima segala keadaan, maka tak ada amarah, tak ada perasaan atau tindakan negatif. Sangat luar biasa. Shalat menjadi lebih khusyuk, berdzikir pun enak. Seseorang dengan kecerdasan spiritualnyanya bisa lebih sering tersenyum.
Mengerti kecerdasan spiritual lewat rasio itu gampang, tapi untuk betul-betul menyadarinya dan mengamalkannya memang tidak mudah.
Ciri orang yang kecerdasan spiritualnya tinggi itu diantaranya mudah memaafkan, jujur, sabar, tidak mudah tersinggung, kreatif, terbuka, spontan, memahami jati diri, memiliki misi hidup, dan lain-lain. ***
Menurut Sentanu, 2011, kecerdasan spiritual itu mempunyai banyak konsep, kiat, dan caranya. Seperti apa sih orang yang cerdas secara spiritual itu? bagaimana rasanya? Otak dan tubuhnya beroperasi seperti apa?
Cerdas secara spiritual atau dekat dengan Tuhan itu harus dibuktikan dengan berada di zona ikhlas yang mensyaratkan tiga hal, yaitu gelombang otaknya harus lebih banyak dalam posisi Alfa dan Tetha, kemudian sistem perkabelan otaknya (neuropeptide) serasi dan memunculkan perasaan tertentu kepada Tuhan, lalu tubuhnya harus cukup mengandung hormon serotonin, endorfin, dan melantonin dalam komposisi yang pas.
Dalam kondisi itu, maka dengan sendirinya ciri-ciri kecerdasan spiritual akan muncul.
Tanpa ketiga syarat itu, agak sulit dipercaya. Misalnya seseorang mengaku dekat dengan Tuhan tapi hormon di tubuhnya dominan kortisol, yaitu hormon yang muncul pada saat orang stres, bagaimana mungkin? Seseorang yang dekat dengan Tuhan mestinya lebih banyak berada dalam kondisi khusyuk, kondisi rileks, dan hormon di tubuhnya pasti hormon yang bagus seperti hormon DHEA, serotonin, endorfin, dan melantonin.
Kita bisa melatih kecerdasan spiritual lewat puasa, dengan syarat puasa tersebut dijalankan dengan benar. Karena puasa bisa menurunkan gelornbang otak dari Beta ke Alfa-Theta sehingga rnembuat orang lebih sabar dan memunculkan keinginan untuk berbuat baik. Kalau itu berlanjut hingga 10 hari maka otaknya akan stabil beroperasi di Alfa-Theta. Kalau hal itu bisa berlanjut hingga 20 hari, maka hormon-hormon yang baik dan menenangkan akan diproduksi oleh tubuh. Saat itu dia akan melihat hidup ini dengan cara lain, menjadi mudah bersyukur, mudah merasa terharu.
Memunculkan perasaan mudah bersyukur itu penting sekali karena rasa syukur bisa diartikan sebagai kemampuan menikmati hidup ini apapun kondisinya, sehingga susah atau senang rasanya tetap nikmat. Rasa syukur yang benar, dalam arti betul-betul menghayati nikmatnya hidup, juga sangat membantu memunculkan kecerdasan spiritual.
Dengan mengasah kecerdasan spiritual, seseorang bisa mengendalikan temperamennya. Bila dulu stres menghadapi kemacetan, sekarang bisa ikhlas dan bisa berpikir barangkali setiap orang memang punya tujuan yang sama. Selain itu, kalau dulu setiap berdoa terus saja meminta tapi lupa bersyukur, kini setiap berdoa selalu diawali dengan mensyukuri semua yang diberikan Tuhan. Dengan anak-anak di rumah lebih sabar dan pengertian. Meminta maaf kepada anak karena merasa salah tidak lagi terasa sulit seperti sebelumnya.
Dalam hidup, kita cenderung lebih banyak menggunakan otak. Padahal dengan perasaan dan keikhlasan, kita justru bisa menghasilkan loncatan-loncatan dalam kehidupan.
Kecerdasan spiritual bisa diasah dengan membantu orang lain. Beramal baik itu meringankan perasaan. Bukan berarti masalah kita lalu selesai, tapi masalah kita itu menjadi terasa ringan dengan menolong orang tanpa memandang agama, suku, ras. Pokoknya kepada semua mahluk Tuhan tanpa pilih-pilih.
Dengan berkhidmat kepada sesama seperti itu ternyata membuat kita lebih kuat, meringankan derita, dan lebih cepat mengantarkan kita pada kecerdasan spiritual yang lebih tinggi. Dengan begitu, kita menjadi lebih dekat dengan Tuhan dan Tuhan pun akhirnya memudahkan urusan-urusan kita.
Masalah itu kalau dinikmati ternyata bisa menjadi ringan; kalau diterima dengan ikhlas dan senyuman, bisa lebih mudah selesai. Karena hati bisa menerima segala keadaan, maka tak ada amarah, tak ada perasaan atau tindakan negatif. Sangat luar biasa. Shalat menjadi lebih khusyuk, berdzikir pun enak. Seseorang dengan kecerdasan spiritualnyanya bisa lebih sering tersenyum.
Mengerti kecerdasan spiritual lewat rasio itu gampang, tapi untuk betul-betul menyadarinya dan mengamalkannya memang tidak mudah.
Ciri orang yang kecerdasan spiritualnya tinggi itu diantaranya mudah memaafkan, jujur, sabar, tidak mudah tersinggung, kreatif, terbuka, spontan, memahami jati diri, memiliki misi hidup, dan lain-lain. ***
posted from Bloggeroid
WUJUD KECERDASAN SPIRITUAL DI TEMPAT KERJA
Para pembaca yang budiman,
Seperti apakah peran kecerdasan spiritual di tempat kerja?
Pegawai dengan kecerdasan spiritual yang tinggi biasanya akan lebih cepat mengalami pemulihan dari suatu penyakit, baik secara fisik maupun mental. Ia lebih mudah bangkit dari suatu kejatuhan atau penderitaan, lebih tahan menghadapi stres, lebih mudah melihat peluang karena memiliki sikap mental positif, serta lebih ceria, bahagia dan merasa puas dalam menjalani kehidupan.
Berbeda dengan pegawai yang memiliki kecerdasan spiritual rendah. Keberhasilan dalam hal karier, pekerjaan, penghasilan, status dan masih banyak lagi hal-hal yang bersifat materi ternyata tidak selalu mampu membuatnya bahagia. Persaingan dan perbedaan kepentingan yang berlangsung begitu ketat seringkali membuat manusia kehilangan arah dan identitas.
Perubahan teknologi yang pesat menghasilkan tekanan yang begitu besar, yang terkadang membutakan manusia dengan kecerdasan spiritual rendah dalam menjalani visi dan misi hidupnya, membuat ia lupa melakukan refleksi diri dan lupa menjalankan perannya sebagai bagian dari komunitas. Kesibukan kerja dan keberhasilan yang dicapai tidak diamalkannya untuk penciptaan arti dan nilai bagi lingkungan.
Para pembaca yang budiman,
Untuk mengaplikasikan kecerdasan spiritual di kantor, maka setiap organisasi perlu membentuk budaya spiritualitas, yang menurut Robbins & Judge dalam bukunya Organizational Behavior, bentuknya adalah:
STRONG SENSE OF PURPOSE.
Penyerapan anggaran itu penting, tetapi bukan yang utama. Seluruh anggota organisasi perlu diingatkan bahwa menjadikan keberadaan organisasi sebesar-besar manfaat bagi masyarakat adalah hal yang lebih bernilai, yang biasanya dinyatakan dalam bentuk visi dan misi organisasi.
TRUST AND RESPECT.
Organisasi dengan budaya spiritual senantiasa memastikan terciptanya kondisi saling percaya, adanya keterbukaan dan kejujuran. Salah satunya dalam bentuk pejabat dan pegawai tidak takut untuk melakukan dan mengakui kesalahan.
HUMANISTIC WORK PRACTICES.
Jam kerja yang fleksibel, penghargaan berdasarkan kerja tim, mempersempit perbedaan status dan imbal jasa, adanya jaminan terhadap hak-hak individu pekerja, kemampuan pegawai, dan keamanan kerja merupakan bentuk-bentuk praktik manajemen sumber daya manusia yang bersifat spiritual.
TOLERATION OF EMPLOYEE EXPRESSION.
Organisasi dengan budaya spiritual memiliki toleransi yang tinggi terhadap bentuk-bentuk ekspresi emosi karyawan. Humor, spontanitas, keceriaan di tempat kerja tidak dibatasi. Bahkan, ada perusahaan yang mendorong dan mengizinkan setiap karyawan untuk menyediakan satu persen dari waktu kerjanya untuk melakukan pekerjaan sukarela bagi pengembangan komunitas, seperti: membagikan makanan kepada para tunawisma, kerja bakti membersihkan taman umum, mendirikan perpustakaan atau rumah baca untuk anak-anak jalanan, dan memberi bantuan bagi korban bencana alam.
Di luar negeri, Southwest Airlines adalah contoh sukses sebuah organisasi spiritual. Pembentukan budaya spiritual di Southwest Airlines telah membuat perusahaan itu menjadi salah satu perusahaan penerbangan dengan turn over (tingkat keluar masuk karyawan) terendah, secara konsisten memiliki biaya tenaga kerja terendah per jarak penerbangan, secara tetap mencatat waktu tiba yang lebih cepat dan tingkat komplain yang lebih rendah dibandingkan pesaingnya, dan terbukti merupakan perusahaan penerbangan yang paling konsisten dalam hal keuntungan di industri penerbangan Amerika Serikat.
Dengan terbentuknya budaya spiritualitas di tempat kerja, diharapkan akan terbentuk karyawan yang gembira, tahu dan mampu memenuhi tujuan hidup.
Karyawan yang demikian umumnya memiliki hidup yang seimbang antara kerja dan pribadi, antara tugas dan pelayanan. Pada umumnya, mereka juga memiliki kinerja yang lebih tinggi. Hasil penelitian yang dilakukan sebuah perusahaan konsultan besar, penerapan lingkungan kerja yang spiritual meningkatkan produktivitas dan menurunkan turn over.
Studi lainnya menunjukkan, karyawan yang kecerdasan spiritualnya tinggi dan didukung lingkungan kerja yang juga spiritual, secara positif menjadi lebih kreatif, memiliki kepuasan kerja yang tinggi, mampu bekerja dengan baik secara tim, dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap organisasi. ***
Seperti apakah peran kecerdasan spiritual di tempat kerja?
Pegawai dengan kecerdasan spiritual yang tinggi biasanya akan lebih cepat mengalami pemulihan dari suatu penyakit, baik secara fisik maupun mental. Ia lebih mudah bangkit dari suatu kejatuhan atau penderitaan, lebih tahan menghadapi stres, lebih mudah melihat peluang karena memiliki sikap mental positif, serta lebih ceria, bahagia dan merasa puas dalam menjalani kehidupan.
Berbeda dengan pegawai yang memiliki kecerdasan spiritual rendah. Keberhasilan dalam hal karier, pekerjaan, penghasilan, status dan masih banyak lagi hal-hal yang bersifat materi ternyata tidak selalu mampu membuatnya bahagia. Persaingan dan perbedaan kepentingan yang berlangsung begitu ketat seringkali membuat manusia kehilangan arah dan identitas.
Perubahan teknologi yang pesat menghasilkan tekanan yang begitu besar, yang terkadang membutakan manusia dengan kecerdasan spiritual rendah dalam menjalani visi dan misi hidupnya, membuat ia lupa melakukan refleksi diri dan lupa menjalankan perannya sebagai bagian dari komunitas. Kesibukan kerja dan keberhasilan yang dicapai tidak diamalkannya untuk penciptaan arti dan nilai bagi lingkungan.
Para pembaca yang budiman,
Untuk mengaplikasikan kecerdasan spiritual di kantor, maka setiap organisasi perlu membentuk budaya spiritualitas, yang menurut Robbins & Judge dalam bukunya Organizational Behavior, bentuknya adalah:
STRONG SENSE OF PURPOSE.
Penyerapan anggaran itu penting, tetapi bukan yang utama. Seluruh anggota organisasi perlu diingatkan bahwa menjadikan keberadaan organisasi sebesar-besar manfaat bagi masyarakat adalah hal yang lebih bernilai, yang biasanya dinyatakan dalam bentuk visi dan misi organisasi.
TRUST AND RESPECT.
Organisasi dengan budaya spiritual senantiasa memastikan terciptanya kondisi saling percaya, adanya keterbukaan dan kejujuran. Salah satunya dalam bentuk pejabat dan pegawai tidak takut untuk melakukan dan mengakui kesalahan.
HUMANISTIC WORK PRACTICES.
Jam kerja yang fleksibel, penghargaan berdasarkan kerja tim, mempersempit perbedaan status dan imbal jasa, adanya jaminan terhadap hak-hak individu pekerja, kemampuan pegawai, dan keamanan kerja merupakan bentuk-bentuk praktik manajemen sumber daya manusia yang bersifat spiritual.
TOLERATION OF EMPLOYEE EXPRESSION.
Organisasi dengan budaya spiritual memiliki toleransi yang tinggi terhadap bentuk-bentuk ekspresi emosi karyawan. Humor, spontanitas, keceriaan di tempat kerja tidak dibatasi. Bahkan, ada perusahaan yang mendorong dan mengizinkan setiap karyawan untuk menyediakan satu persen dari waktu kerjanya untuk melakukan pekerjaan sukarela bagi pengembangan komunitas, seperti: membagikan makanan kepada para tunawisma, kerja bakti membersihkan taman umum, mendirikan perpustakaan atau rumah baca untuk anak-anak jalanan, dan memberi bantuan bagi korban bencana alam.
Di luar negeri, Southwest Airlines adalah contoh sukses sebuah organisasi spiritual. Pembentukan budaya spiritual di Southwest Airlines telah membuat perusahaan itu menjadi salah satu perusahaan penerbangan dengan turn over (tingkat keluar masuk karyawan) terendah, secara konsisten memiliki biaya tenaga kerja terendah per jarak penerbangan, secara tetap mencatat waktu tiba yang lebih cepat dan tingkat komplain yang lebih rendah dibandingkan pesaingnya, dan terbukti merupakan perusahaan penerbangan yang paling konsisten dalam hal keuntungan di industri penerbangan Amerika Serikat.
Dengan terbentuknya budaya spiritualitas di tempat kerja, diharapkan akan terbentuk karyawan yang gembira, tahu dan mampu memenuhi tujuan hidup.
Karyawan yang demikian umumnya memiliki hidup yang seimbang antara kerja dan pribadi, antara tugas dan pelayanan. Pada umumnya, mereka juga memiliki kinerja yang lebih tinggi. Hasil penelitian yang dilakukan sebuah perusahaan konsultan besar, penerapan lingkungan kerja yang spiritual meningkatkan produktivitas dan menurunkan turn over.
Studi lainnya menunjukkan, karyawan yang kecerdasan spiritualnya tinggi dan didukung lingkungan kerja yang juga spiritual, secara positif menjadi lebih kreatif, memiliki kepuasan kerja yang tinggi, mampu bekerja dengan baik secara tim, dan memiliki komitmen yang tinggi terhadap organisasi. ***
posted from Bloggeroid
DELAPAN TANDA KECERDASAN SPIRITUAL
1. Fleksibel
Orang yang fleksibel atau luwes dapat membawa diri dan mudah menyesuaikan diri dengan berbagai situasi yang dihadapi, tidak kaku atau memaksa kehendak. Ibarat air, dapat menyesuaikan diri dengan bentuk wadahnya. Demikian pula orang ini mudah mengalah, dengan demikian dapat menerima berbagai keadaan.
2. Kemampuan Refleksi Tinggi
Orang yang memiliki kemampuan refleksi yang tinggi, cenderung bertanya mengapa atau bagaimana seandainya sebagai kelanjutan apa dan bagaimana. Orang ini juga suka bertanya atau merenungkan hal-hal fundamental: dari mana asalnya manusia ini dan kemana arah hidup manusia; dari mana alam semesta ini; mengapa ada takdir dan nasib; dan sebagainya.
3. Kesadaran diri dan lingkungan tinggi
Orang yang memiliki kesadaran diri yang tinggi berarti telah mengenal dirinya dengan sebaik-baiknya. Dia telah mampu mengendalikan dirinya, misalnya mengendalikan emosi dan dorongan-dorongan lainya. Dengan mengenal dirinya, maka dia juga mengenal orang lain, mampu membaca maksud dan keinginan orang lain.
Kesadaran lingkungan tinggi mencakup kepedulian terhadap sesama, persoalan hidup yang dihadapi bersama, dan juga peduli terhadap lingkungan alam, seperti kecintaan terhadap flora dan fauna.
4. Kemampuan Kontemplasi Tinggi
Orang yang memilki kemampuan kontemplasi yang tinggi, ia memiliki kemampuan untuk mendapat inspirasi dari berbagai hal; kemampuan menyampaikan nilai dan makna kepada orang lain (memberi inspirasi); mengamati berbagai hal untuk menarik hikmahnya atau mendapat inspirasi; memiliki kreatititas tinggi dan kemampuan inovasi yang berasal dari inspirasi yang didapatnya.
5. Berpikir Secara Holistik
Berpikir secara holistik berarti berpikir secara menyeluruh, mengkaitkan berbagai hal yang berbeda-beda. Berpikir secara sistem, tidak terkotak-kotak atau tersegmentasi.
Dengan berpikir secara holistik ini maka terlihat hubungan antara satu hal dengan hal lainnya. Dia juga menghargai perbedaan-perbedaan dan mampu bersinergi. Dia berpikir bahwa segala sesuatu di alam ini adalah satu kesatuan sistem yang besar, dimana komponen-komponennya saling mendukung.
6. Berani Menghadapi dan Memanfaatkan Penderitaan
Segala kesulitan hidup merupakan tempaan atau ujian untuk meningkatkan kesadaran diri seseorang. Untuk belajar melepaskan kelekatan duniawi maka seseorang misalnya harus mengalami kehilangan barang, kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, jabatan, dan sebagainya.
Hendaknya kita dapat mengambil hikmah yang positif dari semua kejadian yang kita alami. Bagaimanapun mula-mula kita merasa sakit hati kehilangan apa yang kita miliki. Namun dari situ kita juga belajar pasrah atau menerima kejadian yang telah kita alami.
7. Berani Melawan Arus dan Tradisi.
Ada kebijaksanaan yang mengatakan, sebaiknya kita hidup mengalir seperti air. Ikuti sajalah kemana arus membawa kita. Namun di sini kita di tantang untuk melawan arus jika dibutuhkan. Para nabi pada umumnya adalah orang yang melawan arus dan merombak tradisi masyarakatnya. Meskipun untuk itu harus menghadapi perlawanan dari orang-orang yang ingin mempertahankan tradisi itu.
Tradisi yang buruk saat ini sedang terjadi di tengah bangsa Indonesia, yaitu tradisi korupsi. Betapa banyak pegawai yang korupsi, mulai dari tingkat atas hingga bawah. Korupsi jelas menyebabkan ambruknya tatanan masyarakat kita. Maka beranikah kita melawan arus hidup di tengah masyarakat yang korup?
Kita di tantang untuk menjadi seperti bunga teratai, meskipun hidup di atas lumpur, tetapi bisa menampilkan keindahannya, tanpa tercemar oleh lumpur tempat hidupnya.
8. Sesedikit Mungkin Menimbulkan Kerusakan.
Orang yang memiliki prinsip sesedikit mungkin menimbulkan kerusakan, tidak ingin melakukan apapun yang bisa mendatangkan efek merusak, seperti misalnya :
Penggunaan bahan bakar yang berlebihan sehingga menimbulkan efek rumah kaca, sehingga bumi semakin panas dan es kutub mencair, menaikkan tingkat permukaan air laut, dan menenggelamkan daratan yang rendah.
Penebangan hutan yang tidak terkendali dapat menyebabkan banjir lokal dan perubahan iklim dunia. ***
posted from Bloggeroid
Orang yang fleksibel atau luwes dapat membawa diri dan mudah menyesuaikan diri dengan berbagai situasi yang dihadapi, tidak kaku atau memaksa kehendak. Ibarat air, dapat menyesuaikan diri dengan bentuk wadahnya. Demikian pula orang ini mudah mengalah, dengan demikian dapat menerima berbagai keadaan.
2. Kemampuan Refleksi Tinggi
Orang yang memiliki kemampuan refleksi yang tinggi, cenderung bertanya mengapa atau bagaimana seandainya sebagai kelanjutan apa dan bagaimana. Orang ini juga suka bertanya atau merenungkan hal-hal fundamental: dari mana asalnya manusia ini dan kemana arah hidup manusia; dari mana alam semesta ini; mengapa ada takdir dan nasib; dan sebagainya.
3. Kesadaran diri dan lingkungan tinggi
Orang yang memiliki kesadaran diri yang tinggi berarti telah mengenal dirinya dengan sebaik-baiknya. Dia telah mampu mengendalikan dirinya, misalnya mengendalikan emosi dan dorongan-dorongan lainya. Dengan mengenal dirinya, maka dia juga mengenal orang lain, mampu membaca maksud dan keinginan orang lain.
Kesadaran lingkungan tinggi mencakup kepedulian terhadap sesama, persoalan hidup yang dihadapi bersama, dan juga peduli terhadap lingkungan alam, seperti kecintaan terhadap flora dan fauna.
4. Kemampuan Kontemplasi Tinggi
Orang yang memilki kemampuan kontemplasi yang tinggi, ia memiliki kemampuan untuk mendapat inspirasi dari berbagai hal; kemampuan menyampaikan nilai dan makna kepada orang lain (memberi inspirasi); mengamati berbagai hal untuk menarik hikmahnya atau mendapat inspirasi; memiliki kreatititas tinggi dan kemampuan inovasi yang berasal dari inspirasi yang didapatnya.
5. Berpikir Secara Holistik
Berpikir secara holistik berarti berpikir secara menyeluruh, mengkaitkan berbagai hal yang berbeda-beda. Berpikir secara sistem, tidak terkotak-kotak atau tersegmentasi.
Dengan berpikir secara holistik ini maka terlihat hubungan antara satu hal dengan hal lainnya. Dia juga menghargai perbedaan-perbedaan dan mampu bersinergi. Dia berpikir bahwa segala sesuatu di alam ini adalah satu kesatuan sistem yang besar, dimana komponen-komponennya saling mendukung.
6. Berani Menghadapi dan Memanfaatkan Penderitaan
Segala kesulitan hidup merupakan tempaan atau ujian untuk meningkatkan kesadaran diri seseorang. Untuk belajar melepaskan kelekatan duniawi maka seseorang misalnya harus mengalami kehilangan barang, kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan, jabatan, dan sebagainya.
Hendaknya kita dapat mengambil hikmah yang positif dari semua kejadian yang kita alami. Bagaimanapun mula-mula kita merasa sakit hati kehilangan apa yang kita miliki. Namun dari situ kita juga belajar pasrah atau menerima kejadian yang telah kita alami.
7. Berani Melawan Arus dan Tradisi.
Ada kebijaksanaan yang mengatakan, sebaiknya kita hidup mengalir seperti air. Ikuti sajalah kemana arus membawa kita. Namun di sini kita di tantang untuk melawan arus jika dibutuhkan. Para nabi pada umumnya adalah orang yang melawan arus dan merombak tradisi masyarakatnya. Meskipun untuk itu harus menghadapi perlawanan dari orang-orang yang ingin mempertahankan tradisi itu.
Tradisi yang buruk saat ini sedang terjadi di tengah bangsa Indonesia, yaitu tradisi korupsi. Betapa banyak pegawai yang korupsi, mulai dari tingkat atas hingga bawah. Korupsi jelas menyebabkan ambruknya tatanan masyarakat kita. Maka beranikah kita melawan arus hidup di tengah masyarakat yang korup?
Kita di tantang untuk menjadi seperti bunga teratai, meskipun hidup di atas lumpur, tetapi bisa menampilkan keindahannya, tanpa tercemar oleh lumpur tempat hidupnya.
8. Sesedikit Mungkin Menimbulkan Kerusakan.
Orang yang memiliki prinsip sesedikit mungkin menimbulkan kerusakan, tidak ingin melakukan apapun yang bisa mendatangkan efek merusak, seperti misalnya :
Penggunaan bahan bakar yang berlebihan sehingga menimbulkan efek rumah kaca, sehingga bumi semakin panas dan es kutub mencair, menaikkan tingkat permukaan air laut, dan menenggelamkan daratan yang rendah.
Penebangan hutan yang tidak terkendali dapat menyebabkan banjir lokal dan perubahan iklim dunia. ***
posted from Bloggeroid
Langganan:
Postingan (Atom)