Selasa, 09 April 2013

PENTINGNYA PERUBAHAN POLA PIKIR APARATUR


Halo para pembaca yang budiman, apa kabar? Semoga anda semua selalu dalam keadaan sehat dan sejahtera, aamiin. 
Pada kesempatan ini saya ingin mengajak anda mencermati sebuah topik yang terkait sangat erat dengan kinerja pemerintahan  di negeri kita tercinta ini, yaitu “Pentingnya Perubahan Pola Pikir Aparatur pemerintah"
Bila mencermati sepak terjang aparatur pada umumnya, tentu anda sepakat bahwa memang ada sesuatu yang tidak beres dengan pola pikir aparatur kita.  Hal itu bisa kita tangkap dari pemberitaan di media massa, yang seakan tiada hentinya memberitakan kisah-kisah  penyimpangan para abdi negara dan abdi masyarakat ini.  Mulai dari maraknya korupsi, ketidak-disiplinan, kualitas pelayanan yang rendah, akuntabilitas yang rendah, hingga minimnya integritas dan komitmen.
Mengapa banyak aparatur yang kondisinya seperti itu? Apakah kecenderungan aparatur untuk korup karena terdesak oleh kebutuhan ekonomi? Atau karena gaya hidup? atau karena sebab lainnya...? Mengapa ada aparatur yang “rela” membiarkan dirinya memiliki integritas yang rendah, sementara yang lain tidak? Para pembaca yang budiman, inilah kiranya problem pola pikir aparatur kita...
Pola pikir yang kurang memadai dari para PNS ini, menyebabkan program reformasi birokrasi berjalan ditempat.  Menurut para ahli, reformasi birokrasi hanya akan memperlihatkan hasilnya bila “pola pikir aparatur” berubah.  Artinya sebelum mereformasi yang lain-lain, yang terlebih dahulu harus diperbaiki adalah pola pikir aparaturnya.
Mengapa pola pikir aparatur yang harus terlebih dahulu direformasi?
Dengan tanpa menafikkan kekurangan yang ada, pada dasarnya para pakar di negara kita telah merancang sistem pemerintahan ini dengan sangat baik.  Berbagai ketentuan hukum dan peraturan perundangan yang mengatur hajat hidup berbangsa dan bernegara telah cukup dibuat.  Tetapi sistem yang sudah cukup baik ini ternyata tidak menjamin mulusnya penyelenggaraan pemerintahan.  Penyimpangan para birokrat masih saja terus terjadi.
Dengan kondisi yang seperti ini maka kita dapat memastikan bahwa berbagai persoalan birokrasi itu sebagian besarnya muncul karena faktor manusianya.  Faktor aparatur yang pola pikirnya tidak mendukung ke arah terselenggaranya pemerintahan yang bersih dan efektif.
Para pembaca yang budiman, 
Seberapa penting sebetulnya masalah pola pikir ini? Seberapa hebat dampaknya terhadap kinerja? Seberapa urgen sehingga seorang aparatur itu harus merasa resah atau tidak resah dengan pola pikir yang dimilikinya?
Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kilas balik sejenak dengan apa yang pernah terjadi pada tahun 2007 dan 2008.  Ketika itu sebuah majalah terkemuka ibukota melakukan penelitian terhadap pejabat-pejabat publik di kementerian, lembaga, maupun dilingkup pemerintahan daerah.  Dari hasil penelitian tersebut terungkap bahwa ditengah buruknya citra aparatur pemerintah secara umum, masih ditemukan orang-orang yang berani berbeda dengan lingkungannya.  Tidak kurang dari 7 tokoh di kementerian dan lembaga, serta 10 orang kepala daerah yang terpilih menjadi pejabat publik terbaik pada waktu itu. 
Para tokoh ini seluruhnya menunjukkan determinasi yang luar biasa.  Mereka mengukir banyak prestasi dengan menghasilkan keputusan atau kebijakan yang berdampak luas terhadap perbaikan sistem dan kultur.  Mereka juga tergolong orang-orang yang berani dalam menjalankan tugas dan menegakkan hukum.
Mereka menolak fenomena klasik birokrasi: korupsi, inefisiensi, bekerja tanpa visi.  Mereka menempatkan keteladanan dan kejujuran di urutan pertama.  Mereka percaya, komunikasi yang intens merupakan kunci keberhasilan, bukan komunikasi yang instan.  Mereka sabar mendengar rakyat, dan bekerja mencapainya.
Dari sepak terjang para tokoh ini, jelaslah bahwa mereka memiliki pola pikir yang berbeda dari kebanyakan aparatur.  Mereka memiliki sistem belief, atau kepercayaan, atau sekumpulan kepercayaan, yang sangat sehat, yang mampu mengantarkan mereka kepada cara berpikir, cara berkomunikasi, cara bertindak, dan cara berperilaku yang sangat mendukung karir mereka sebagai aparatur yang bersih dan efektif.
Para pembaca yang budiman,
Berdasarkan gambaran di atas, kita dapat memahami bahwa pola pikir yang tepat ternyata sangat penting bagi seorang aparatur.  Dengan memahami bagaimana pola pikir bekerja, kita dapat menduga apakah seseorang aparatur tergolong lurus, atau menyimpang.
Demikian besarnya pengaruh pola pikir terhadap cara bertindak seseorang, maka tidak berlebihan kiranya kalau para ahli berpendapat bahwa reformasi birokrasi harus dilakukan dengan terlebih dahulu mereformasi pola pikir para aparaturnya.
Para pembaca yang budiman, khususnya anda para aparatur pemerintah, kami yakin dan percaya, bahwa anda tidak akan melewatkan kesempatan untuk menjadi aparatur yang memiliki pola pikir yang sehat, unggul, dan membahagiakan.  Pola pikir yang mengantarkan anda kepada sosok aparatur yang memiliki integritas dan kinerja yang tinggi.  Dari sini tentu akan timbul pertanyaan, bagaimana caranya mengubah pola pikir aparatur? nantikan postingan saya berikutnya..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar